Menuju
puncak ini semuanya makin terasa mengerikan. Teringatku akan masa lalu yang
kenyataannya baru terjadi kurang dari setahun lalu, hal itu terus membuatku
jatuh terhempas di lembah yang terjal dan gelap. Tak pernah hatiku berhenti
‘tuk berteriak, pertolongan pun tak kunjung meraihku dalam kegelapan.
Satu
keanehan merebak, keanehan kecil lainnya turut merebak bahkan hingga memuncak.
Semua inilah yang membuatku hidup sendiri dan terasingkan. Kupikir semua ini
juga semakin memuncak karena akal bulus seseorang. Kepercayaan yang
kutinggalkan padanya telah hancur begitu saja bak kertas putih di pinggiran
jalan berkerikil yang dihancurkan oleh timpaan air dengan batu kerikil.
Tanpa
doa, aku selalu menangis dan selalu merasakan perih dihati tanpa berkesudahan.
Tapi seusai berdoa, segalanya terasa seperti baru, sama halnya seperti sebuah
media penyimpanan yang penuh dengan virus dan file-file yang berkecamuk di
dalamnya yang kemudian dihapus sekaligus, saat itu juga, dengan cepat.
Aku
yakin bahwa aku telah mendapat izin untuk mampu melalui masalahku dengan mulut
yang bungkam, dan pikiran yang menerawang jauh ke dalam pikiran dan tindakan
orang lain. Bahkan aku sempat ingin berkicau agar hati dan pikiranku kembali
indah dan membuat mereka membungkam mulut mereka dari segala sisi. Tapi,
mungkin jika aku melakukan itu, rasa benci yang timbul dalam diri mereka hanya
seperti permukaan air yang disentuh ujung jari saja dan tidak terlalu
memberikan dampak. Yang aku inginkan adalah menjadi seseorang dikemudian hari
dan memberitahukannya kepada semua orang baik yang kukenal ataupun tidak, dan
membuat orang-orang jahat yang dahulu menginjak-injakku menjadi begitu bungkam
dan malu atas perlakuannya. Tenang saja, aku tidak ingin membalaskan dendam.
Hanya saja balasan yang akan kulakukan nanti sifatnya alami, bukan karena ego
melainkan karena jalan hidup. Aku masih ingin menikmati masa rumit ini, dan
nantinya aku akan menikmati hidup bahagiaku bersama dengan semua orang yang
sungguh kusayangi dan mereka juga menyayangiku, tanpa berpura-pura.
Hanya
saja aku tak tahu sampai kapan aku akan hidup. Bila aku hanya menanti
kebahagiaan yang masih diangan-angan saja, hidupku sangatlah sia-sia. Jadi, sedikit
demi sedikit akan kukumpukan kebahagiaan itu dan akan kuceriterakan kepada
generasiku kelak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar