Selasa, 10 Maret 2015

Menuju Puncak



                Menuju puncak ini semuanya makin terasa mengerikan. Teringatku akan masa lalu yang kenyataannya baru terjadi kurang dari setahun lalu, hal itu terus membuatku jatuh terhempas di lembah yang terjal dan gelap. Tak pernah hatiku berhenti ‘tuk berteriak, pertolongan pun tak kunjung meraihku dalam kegelapan.
                Satu keanehan merebak, keanehan kecil lainnya turut merebak bahkan hingga memuncak. Semua inilah yang membuatku hidup sendiri dan terasingkan. Kupikir semua ini juga semakin memuncak karena akal bulus seseorang. Kepercayaan yang kutinggalkan padanya telah hancur begitu saja bak kertas putih di pinggiran jalan berkerikil yang dihancurkan oleh timpaan air dengan batu kerikil.
                Tanpa doa, aku selalu menangis dan selalu merasakan perih dihati tanpa berkesudahan. Tapi seusai berdoa, segalanya terasa seperti baru, sama halnya seperti sebuah media penyimpanan yang penuh dengan virus dan file-file yang berkecamuk di dalamnya yang kemudian dihapus sekaligus, saat itu juga, dengan cepat.
                Aku yakin bahwa aku telah mendapat izin untuk mampu melalui masalahku dengan mulut yang bungkam, dan pikiran yang menerawang jauh ke dalam pikiran dan tindakan orang lain. Bahkan aku sempat ingin berkicau agar hati dan pikiranku kembali indah dan membuat mereka membungkam mulut mereka dari segala sisi. Tapi, mungkin jika aku melakukan itu, rasa benci yang timbul dalam diri mereka hanya seperti permukaan air yang disentuh ujung jari saja dan tidak terlalu memberikan dampak. Yang aku inginkan adalah menjadi seseorang dikemudian hari dan memberitahukannya kepada semua orang baik yang kukenal ataupun tidak, dan membuat orang-orang jahat yang dahulu menginjak-injakku menjadi begitu bungkam dan malu atas perlakuannya. Tenang saja, aku tidak ingin membalaskan dendam. Hanya saja balasan yang akan kulakukan nanti sifatnya alami, bukan karena ego melainkan karena jalan hidup. Aku masih ingin menikmati masa rumit ini, dan nantinya aku akan menikmati hidup bahagiaku bersama dengan semua orang yang sungguh kusayangi dan mereka juga menyayangiku, tanpa berpura-pura.
                Hanya saja aku tak tahu sampai kapan aku akan hidup. Bila aku hanya menanti kebahagiaan yang masih diangan-angan saja, hidupku sangatlah sia-sia. Jadi, sedikit demi sedikit akan kukumpukan kebahagiaan itu dan akan kuceriterakan kepada generasiku kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar