Selasa, 10 Maret 2015

Awal dan Akhirku



        Aku memiliki sedikitnya tiga orang sahabat. Tapi entahlah. Mungkin yang lain pergi dan hanya tinggal dua saja. Aku dan kedua orang tersebut sudah bersama sejak SMP. Tiga tahun dengan yang pertama, dan dua setengah tahun dengan yang kedua. Begitu banyak konflik yang kuhadirkan saat itu. Aku yakin mereka membenciku. Tapi, mereka tetap mengasihiku. Ya! Firman Tuhan mengajarkan kami demikian.
        Tiba di penghujung tahun, kami mulai sedih dan resah. Sedih karena berpisah dan resah karena tak yakin kapan bisa berkumpul bersama seperti saat-saat kita bersama. Dan akhirnya benar. Salah satu dari kami pergi. Aku tahu apa yang dialaminya, sekalipun aku tidak mengalami. Aku selalu berdoa agar yang terbaik selalu menyertainya. Yang tersisa hanya kami berdua. Begitu banyak pergumulan kami untuk tetap bersama, mulai dari sekolah yang sama, kelas yang sama, tugas yang sama, dan lainnya. Dan pada akhirnya, benar! Kami bersama dalam satu nama sekolah, namun berbeda ruangan. Kami terpisah. Itu sama saja! Membuatku rindu akan masa-masa dimana kita dididik dalam satu nama sekolah, bersama dalam satu ruangan kelas, dan duduk berdempetan. Ya, aku harap itu terjadi lagi. Tapi, entahlah.
Kini semuanya berubah. Tidak semuanya. Aku hanya sedih terhadap caranya yang sampai kini masih berdiri dalam satu nama sekolah dan saat kelas sebelas ini kami berada dalam satu ruang kelas. Mungkin dia lupa bahwa aku adalah seorang pencemburu. Mungkin dia lupa bahwa aku yang sangat jahat dan buruk rupa ini membutuhkannya. Mungkin dia lupa padaku karena ada sosok sahabat lain yang jauh lebih tepat untuk mengisi hari-harinya. Mungkin dia ingin membalaskan dendam atas apa yang telah kulakukan dimasa lalu, dan dia tidak memaafkanku. Mengenaskan! Usahaku sia-sia saja. Aku terus berusaha untuk tampak baik dan menjadi yang terbaik baginya. Namun sekarang apa? Kami sama saja seperti teman yang baru bertemu dan berkenalan karena berada dalam satu ruang kelas yang sama. Aku merasa sebal, jengkel, iri, gundah, juga sakit hati atas setiap perbuatannya. Aku tak suka dengan caranya yang selalu berkata selayaknya dia mempedulikanku. Nyatanya tidak. Dia selalu dan selalu mengabaikanku. Dulu saat kami berbeda pendapat, ada yang mengalah. Namun jika sama-sama keras kepala, kami mencoba untuk berpikir keritis. Saat ini aku banyak mengalah. Aku yakin itu. Saat kami berbeda pendapat, kami saling membentak, bahkan menjatuhkan. Tragis sekali. Namun aku sudah mulai biasa dengan hal yang menyakitkan seperti ini. Aku anggap biasa karena aku pikir dia sedang berada dalam masa pertumbuhan salah satu cara berpikir. Aku mencoba mengerti.
Hari demi hari kami sudah bersama. Bahkan hingga pada penghujungg jenjang kami akan bersama dalam satu ruang kelas yang sama. Aku yakin konflik akan datang menerpa. Bagaimana tidak? Dia tidak mempedulikanku. Dia sudah tidak mempedulikanku. Dia sedang asik dalam dunianya. Dia sedang tergila-gila dengan mereka yang menyambutnya. Dia sedang terpesona oleh mereka yang seperti mengelu-elukan dia. Aku hanya tetap diam.
Aku berpendapat bahwa dia sudah terbang tinggi dengan pamornya dan mengabaikanku di bawah sini. Melirikpun tidak. Aku yakin dengan hal itu. Saat salah seorang temanku mengerjainya dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan kekanak-kanakan, aku membelanya sehingga aku harus dibenci orang itu. Maksudku adalah sebagai pertanda bahwa aku rela berkorban demi dia. Tetapi saat suatu hari aku berada dalam posisi terbully, dia hanya tersenyum acuh tak acuh bak mempedulikanku, namun sebenarnya tidak. Matanya mengatakan hal itu. Aku merasa sakit hati saat itu juga. Padahal aku hanya ingin mengujinya. Aku rela berkorban untuknya, bagaimana dengannya? Ternyata tidak. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri.
Sepanjang hari, sepanjang minggu, bahkan sepanjang bulan aku mulai membiasakan diri untuk tidak lagi menganggap dia sebagai seseorang yang kubutuhkan (aku menjatuhkan air mata saat ini). Jadi aku mulai menjauhkan diri. Aku pikir dia ingin mendewasakan dirinya tanpaku lagi. Dia sudah tidak menyertakanku lagi dalam hidupnya.
Sepanjang hari aku selalu bersikap baik-baik saja dihadapannya. Kalaupun dia tahu aku mengapa, pasti dia akan menganggapku lemah dan semakin menjatuhkanku. Ini tentu akan membuatku semakin terpuruk.
Hati ini yang cemburu melihatnya lebih bahagia dengan teman-teman lain membuat hatiku teriris lembut. Rasa tusukannya sangat terasa disini. Tiap hari semakin sakit.
Aku rindu pada diri sahabatku yang dulu. Aku rindu kebersamaan dimana kita bisa saling mengisi. Tidak dengan sekarang. Mungkin inilah takdirku untuk tidak memiliki seseorang yang benar-benar sanggup menjadi sandaran kepribadianku. Tidak ada lagi teman sejati dalam hidupku. Ini sudah usai.


Menuju Puncak



                Menuju puncak ini semuanya makin terasa mengerikan. Teringatku akan masa lalu yang kenyataannya baru terjadi kurang dari setahun lalu, hal itu terus membuatku jatuh terhempas di lembah yang terjal dan gelap. Tak pernah hatiku berhenti ‘tuk berteriak, pertolongan pun tak kunjung meraihku dalam kegelapan.
                Satu keanehan merebak, keanehan kecil lainnya turut merebak bahkan hingga memuncak. Semua inilah yang membuatku hidup sendiri dan terasingkan. Kupikir semua ini juga semakin memuncak karena akal bulus seseorang. Kepercayaan yang kutinggalkan padanya telah hancur begitu saja bak kertas putih di pinggiran jalan berkerikil yang dihancurkan oleh timpaan air dengan batu kerikil.
                Tanpa doa, aku selalu menangis dan selalu merasakan perih dihati tanpa berkesudahan. Tapi seusai berdoa, segalanya terasa seperti baru, sama halnya seperti sebuah media penyimpanan yang penuh dengan virus dan file-file yang berkecamuk di dalamnya yang kemudian dihapus sekaligus, saat itu juga, dengan cepat.
                Aku yakin bahwa aku telah mendapat izin untuk mampu melalui masalahku dengan mulut yang bungkam, dan pikiran yang menerawang jauh ke dalam pikiran dan tindakan orang lain. Bahkan aku sempat ingin berkicau agar hati dan pikiranku kembali indah dan membuat mereka membungkam mulut mereka dari segala sisi. Tapi, mungkin jika aku melakukan itu, rasa benci yang timbul dalam diri mereka hanya seperti permukaan air yang disentuh ujung jari saja dan tidak terlalu memberikan dampak. Yang aku inginkan adalah menjadi seseorang dikemudian hari dan memberitahukannya kepada semua orang baik yang kukenal ataupun tidak, dan membuat orang-orang jahat yang dahulu menginjak-injakku menjadi begitu bungkam dan malu atas perlakuannya. Tenang saja, aku tidak ingin membalaskan dendam. Hanya saja balasan yang akan kulakukan nanti sifatnya alami, bukan karena ego melainkan karena jalan hidup. Aku masih ingin menikmati masa rumit ini, dan nantinya aku akan menikmati hidup bahagiaku bersama dengan semua orang yang sungguh kusayangi dan mereka juga menyayangiku, tanpa berpura-pura.
                Hanya saja aku tak tahu sampai kapan aku akan hidup. Bila aku hanya menanti kebahagiaan yang masih diangan-angan saja, hidupku sangatlah sia-sia. Jadi, sedikit demi sedikit akan kukumpukan kebahagiaan itu dan akan kuceriterakan kepada generasiku kelak.