Aku memiliki sedikitnya tiga orang
sahabat. Tapi entahlah. Mungkin yang lain pergi dan hanya tinggal dua saja. Aku
dan kedua orang tersebut sudah bersama sejak SMP. Tiga tahun dengan yang
pertama, dan dua setengah tahun dengan yang kedua. Begitu banyak konflik yang
kuhadirkan saat itu. Aku yakin mereka membenciku. Tapi, mereka tetap
mengasihiku. Ya! Firman Tuhan mengajarkan kami demikian.
Tiba di penghujung tahun, kami mulai
sedih dan resah. Sedih karena berpisah dan resah karena tak yakin kapan bisa berkumpul
bersama seperti saat-saat kita bersama. Dan akhirnya benar. Salah satu dari
kami pergi. Aku tahu apa yang dialaminya, sekalipun aku tidak mengalami. Aku
selalu berdoa agar yang terbaik selalu menyertainya. Yang tersisa hanya kami
berdua. Begitu banyak pergumulan kami untuk tetap bersama, mulai dari sekolah
yang sama, kelas yang sama, tugas yang sama, dan lainnya. Dan pada akhirnya,
benar! Kami bersama dalam satu nama sekolah, namun berbeda ruangan. Kami
terpisah. Itu sama saja! Membuatku rindu akan masa-masa dimana kita dididik
dalam satu nama sekolah, bersama dalam satu ruangan kelas, dan duduk
berdempetan. Ya, aku harap itu terjadi lagi. Tapi, entahlah.
Kini
semuanya berubah. Tidak semuanya. Aku hanya sedih terhadap caranya yang sampai
kini masih berdiri dalam satu nama sekolah dan saat kelas sebelas ini kami
berada dalam satu ruang kelas. Mungkin dia lupa bahwa aku adalah seorang
pencemburu. Mungkin dia lupa bahwa aku yang sangat jahat dan buruk rupa ini
membutuhkannya. Mungkin dia lupa padaku karena ada sosok sahabat lain yang jauh
lebih tepat untuk mengisi hari-harinya. Mungkin dia ingin membalaskan dendam
atas apa yang telah kulakukan dimasa lalu, dan dia tidak memaafkanku.
Mengenaskan! Usahaku sia-sia saja. Aku terus berusaha untuk tampak baik dan
menjadi yang terbaik baginya. Namun sekarang apa? Kami sama saja seperti teman
yang baru bertemu dan berkenalan karena berada dalam satu ruang kelas yang
sama. Aku merasa sebal, jengkel, iri, gundah, juga sakit hati atas setiap
perbuatannya. Aku tak suka dengan caranya yang selalu berkata selayaknya dia
mempedulikanku. Nyatanya tidak. Dia selalu dan selalu mengabaikanku. Dulu saat
kami berbeda pendapat, ada yang mengalah. Namun jika sama-sama keras kepala,
kami mencoba untuk berpikir keritis. Saat ini aku banyak mengalah. Aku yakin
itu. Saat kami berbeda pendapat, kami saling membentak, bahkan menjatuhkan.
Tragis sekali. Namun aku sudah mulai biasa dengan hal yang menyakitkan seperti
ini. Aku anggap biasa karena aku pikir dia sedang berada dalam masa pertumbuhan
salah satu cara berpikir. Aku mencoba mengerti.
Hari demi
hari kami sudah bersama. Bahkan hingga pada penghujungg jenjang kami akan
bersama dalam satu ruang kelas yang sama. Aku yakin konflik akan datang
menerpa. Bagaimana tidak? Dia tidak mempedulikanku. Dia sudah tidak
mempedulikanku. Dia sedang asik dalam dunianya. Dia sedang tergila-gila dengan
mereka yang menyambutnya. Dia sedang terpesona oleh mereka yang seperti
mengelu-elukan dia. Aku hanya tetap diam.
Aku
berpendapat bahwa dia sudah terbang tinggi dengan pamornya dan mengabaikanku di
bawah sini. Melirikpun tidak. Aku yakin dengan hal itu. Saat salah seorang
temanku mengerjainya dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan kekanak-kanakan, aku
membelanya sehingga aku harus dibenci orang itu. Maksudku adalah sebagai
pertanda bahwa aku rela berkorban demi dia. Tetapi saat suatu hari aku berada
dalam posisi terbully, dia hanya tersenyum acuh tak acuh bak mempedulikanku,
namun sebenarnya tidak. Matanya mengatakan hal itu. Aku merasa sakit hati saat
itu juga. Padahal aku hanya ingin mengujinya. Aku rela berkorban untuknya,
bagaimana dengannya? Ternyata tidak. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri.
Sepanjang
hari, sepanjang minggu, bahkan sepanjang bulan aku mulai membiasakan diri untuk
tidak lagi menganggap dia sebagai seseorang yang kubutuhkan (aku menjatuhkan
air mata saat ini). Jadi aku mulai menjauhkan diri. Aku pikir dia ingin
mendewasakan dirinya tanpaku lagi. Dia sudah tidak menyertakanku lagi dalam
hidupnya.
Sepanjang
hari aku selalu bersikap baik-baik saja dihadapannya. Kalaupun dia tahu aku
mengapa, pasti dia akan menganggapku lemah dan semakin menjatuhkanku. Ini tentu
akan membuatku semakin terpuruk.
Hati ini
yang cemburu melihatnya lebih bahagia dengan teman-teman lain membuat hatiku
teriris lembut. Rasa tusukannya sangat terasa disini. Tiap hari semakin sakit.
Aku rindu
pada diri sahabatku yang dulu. Aku rindu kebersamaan dimana kita bisa saling
mengisi. Tidak dengan sekarang. Mungkin inilah takdirku untuk tidak memiliki
seseorang yang benar-benar sanggup menjadi sandaran kepribadianku. Tidak ada
lagi teman sejati dalam hidupku. Ini sudah usai.
